Piala Dunia Antarklub 2025 – Javier Tebas : “Tidak Masuk Akal”

piala dunia antarklub 2025 dikritik javier tebas

Onebetasia – Ajang Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi perbincangan hangat, namun bukan karena kemegahannya. Kritik tajam datang dari Presiden La Liga, Javier Tebas. Javier menyebut turnamen ini sebagai ancaman bagi ekosistem sepak bola profesional, khususnya kompetisi domestik seperti La Liga Spanyol.

Dengan format baru yang menyerupai Piala Dunia antarnegara, FIFA menjadwalkan Piala Dunia Antarklub pada 15 Juni hingga 14 Juli 2025. Turnamen ini hanya berjarak satu bulan dari dimulainya musim La Liga 2025/26. Namun, banyak pihak menganggap turnamen ini tidak realistis di tengah jadwal sepak bola yang sudah sangat padat.


Tebas Desak FIFA Hentikan Piala Dunia Antarklub 2025

Dalam wawancara eksklusif dengan Marca (17 Juni 2025), Javier Tebas melontarkan kritik keras. Ia menilai solusi terbaik adalah membatalkan kompetisi tersebut secara keseluruhan.

“Solusinya sederhana: hapus turnamennya. Saya tidak melihat adanya manfaat nyata dari ajang ini bagi klub maupun liga,” ujar Tebas.

Menurutnya, penambahan turnamen ini hanya mengalihkan pendapatan liga ke FIFA. Turnamen tersebut tidak berdampak positif bagi sepak bola lokal.


Beban Jadwal dan Ancaman Kesehatan Pemain

Salah satu kekhawatiran utama Tebas adalah dampaknya terhadap jadwal pertandingan dan kesehatan pemain. Jika mencapai final, klub seperti Real Madrid dan Atletico Madrid akan bermain hingga pertengahan Juli. Padahal, musim La Liga dimulai pada 16 Agustus.

Dengan waktu istirahat yang sangat sempit, para pemain terancam kelelahan, bahkan cedera. Kondisi ini mengganggu ritme pramusim yang seharusnya difokuskan pada pemulihan dan persiapan kompetisi baru.

“Turnamen ini tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mengganggu struktur liga domestik yang selama ini menjadi tulang punggung sepak bola Eropa,” tegasnya.


FIFA Dinilai Bertindak Sepihak Piala Dunia Antarklub 2025

Tebas juga menyoroti kurangnya komunikasi dan transparansi dari FIFA. Ia menyebut bahwa pihak liga tidak pernah dilibatkan dalam proses penentuan jadwal maupun format turnamen.

“FIFA tidak berkonsultasi dengan kami mengenai tanggal atau dampaknya terhadap kalender nasional. Keputusan sepihak seperti ini merusak kepercayaan antara federasi dan liga,” ujar Tebas.

FIFA tidak melibatkan stakeholder utama seperti liga domestik dan asosiasi pemain.
Hal ini memperkuat kritik bahwa FIFA lebih mementingkan aspek komersial dibanding menjaga keseimbangan kompetisi.


Dukungan dari Pep Guardiola: Jadwal Terlalu Padat

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, juga menyuarakan kekhawatiran meskipun tidak secara langsung menolak keberadaan turnamen.

“Saya tidak menolak kompetisi baru. Tapi saya menolak kurangnya waktu istirahat dari tahun ke tahun,” ujar Guardiola.

Sebagai pelatih tim papan atas, Guardiola tahu pentingnya waktu pemulihan.
Waktu istirahat sangat berpengaruh pada performa dan kesehatan pemain. Ketika jeda semakin sempit, risiko cedera meningkat drastis.


Tarik Menarik antara Kepentingan Bisnis dan Sepak Bola Berkelanjutan

Banyak pihak menilai Piala Dunia Antarklub 2025 adalah bagian dari strategi komersialisasi sepak bola global oleh FIFA. Dengan potensi keuntungan besar dari hak siar, sponsor, dan audiens global, turnamen ini menjadi proyek ambisius yang dipenuhi pro-kontra.

Namun, dari sudut pandang liga domestik seperti La Liga, turnamen ini dianggap mengganggu ekosistem sepak bola. Padahal, ekosistem tersebut selama ini mendukung pertumbuhan pemain dan klub.

“Bukan hanya soal kelelahan, tetapi juga ketimpangan yang bisa terjadi antara klub besar dan kecil,” kata Tebas.


Kesimpulan: Perlu Dialog dan Kebijakan Inklusif

Piala Dunia Antarklub 2025 memang menjanjikan tontonan global. Namun, kritik dari Javier Tebas dan Pep Guardiola menunjukkan dampak negatif turnamen ini.
Mereka menilai ajang tersebut bisa mengganggu keseimbangan sepak bola profesional.

Tanpa konsultasi yang menyeluruh dan tanpa mempertimbangkan liga domestik serta kondisi pemain, keputusan seperti ini bisa berdampak buruk.
Kompetisi lokal terancam, dan kesehatan pemain bisa terganggu.

Kedepannya, FIFA perlu lebih terbuka terhadap masukan dari semua pihak terkait. Karena sepak bola bukan hanya milik penyelenggara, tetapi milik klub, pemain, dan penggemar di seluruh dunia.

Post Comment